Selasa, 27 April 2010

MENGUBAH LOYANG, MENJADI EMAS


MENGUBAH LOYANG, MENJADI EMAS

Rumah Singgah Diponegoro yang terletak di Jl Utara No: 6b Pugeran Maguwo Depok, sleman Yogyakarta ini telah berdiri sejak tahun 1999, dan hingga saat ini tetap menfokuskan pada pendampingan untuk kebutuhan pendidikan bagi anak, pendampingan psikologi, dan konsep keluarga bagi anak dampingan.
Fauzan Satyanegara, sebagai ketua Yayasan Rumah Singgah dan Belajar Diponegoro (RSBD) menjelaskan bahwa, melakukan pendampingan bagi anak yang melakukan aktifitas ekonomi di jalanana. Dalam perjalanannya RSBD meyakini bahwa kehangatan didalam keluarga dapat mencegah anak untuk hidup dijalan dimana aktifitas ekonomi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hidup dijalanan. Dengan kesadaran tersebut upaya yang dilakukan pertama kali adalah membangun hubungan yang manis dan hangat di rumah, sehingga anak merasakan sebuah aura positive ketika berada dirumah.
Dengan kesadaran bahwa manusia membutuhkan kehangatan yang bersumber dari keluarga dalam upayanya RSBD mencoba untuk membentuk iklim keluarga dirumah, dengan cara membuat "hari keluarga" yang mana hari tersebuat adalah hari dimana seluruh anggota rumah berkumpul untuk melakukan makan siang bersama, bercerita bersama, bersenda gurau bersama, serta saling bertukar pengalaman yang dilalui selama satu minggu terakhir. Dengan harapan, anak yang dengan tingkat mobilisasinya yang tinggi sehingga kecendrungan untuk tinggal setiap hari dirumah agak rendah selalu ingat bahwa ada satu hari dalam satu minggu adalah hari dimana (dengan sadar dan butuh) mereka harus berkumpul dengan keluarga yang ada di rumah. Sehingga RSBD dapat melakukan monitoring terhadap perkembangan anak.
Seiring dengan kebutuhan yang kemudian bermuculan, kebutuhan akan pendidikan pun menjadi sasaran lanjutan. Setelah terbangun hubung yang hangat antara anak dan pendamping (positive rapport) kegiatan belajar pun mulai dirintis yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Mulai dari kebutuhan untuk membaca dan menulis serta berhitung. Yang kemudian proyeksi pengembangannya adalah pembelajaran dengan konsep "manusia pembelajar" dimana materi pendidikan formal pun dapat terintegrasikan kepada anak sehingga anak memiliki kompetensi yang sama dengan anak yang duduk dibangku formal. dimana dengan keterbatasannya anak secara serta merta fungsi sosial dan masyarakatnya pun turut mereduksi namun tetap sama sebagaimana anak pada umumnya. Oleh karena itu kebutuhan akan pendampingan bidang pendidikan pun dinilai sebagai sebuah orientasi dalam pendampingan. Dimana anak dengan jiwa "pembelajar"nya melakukan persiapan dan perjuangan menuju kemandirian dimasa mereka memasuki usia produktif. Dengan kata lain anak diproyeksikan untuk mencapai kemandirian ketika memasuki usia produktif.
Fausan kembali menjelaskan, bahwa Rumah Singgah Diponegoro terseting hanya khusus bagi laki-laki dengan usia 10-20 tahun. Rumang singggah Diponegoro tidak pernah memaksa anak-anak jalanan untuk masuk menjadi bagian rumah singgah, sehingga mereka kebanyakan datang karena di ajak teman, atau mungkin kesadaran pribadi dari diri mereka, bahwa mereka membutuhkan tempat untuk berlindung, sebagaimana sebuah keluarga.
Terkadang masyarakat memandang sebelah mata keberadaan rumah singgah, hingga harus berpindah dari tahun—ketahun, namun hal ini tidak menyurutkan niat Fauzan untuk tetap mempertahankan Rumah Singgah, Fauzan biasa mengatasi masalah tersenut dengan dilakukan pendekatan kepada tiap individu dalam masyarakat untuk di berikan pengarahan, bahwa anak jalanan juga manusia yang butuh tempat tinggal dan mereka ingin di akui sebagai bagian dari masyarakat. “Bila kami diberi kesempatan, sebenarnya kami akan merubah”, Motto Fauzan yang ia lontarkan, dalam arti apabila masyarakat memberi kesempatan kepada keberadaan rumah singgah, maka kami akan mengubah anak-anak jalanan ini menjadi anak bangsa yang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya sebagai penerus bangsa.
Disisi lain, memang tidak mudah mengubah karakter anak jalanan, semuanya membutuhkan proses dalam memdidik moral dan akhlak merekka, perlu ada pendekatan secara personal untuk untuk mengetahui bakat dan cita-cita mereka, sehingga di rumah singgah ini ada guru BK, yang mana bertugas dalam memberikan pendidikkan sosial kepada anak jalanan.
Kami menggunakan teori SD, yang mana dalam mendidik anak yang ada di rumah singgah ini kami kelompokan menjadi, 1 tahun pertama adalah pendidikan pribadi, agar anak-anak jalanan memiliki disiplin, dan paling tidak dapat bertanggung jawab terhadap dirinya, lalu 3 tahun kedua adalah pengembangan potensi dalam diri mereka, dan 3tahun ketiga adalah menjadikan anak jalanan sebagai pribadi yang dewasa, sehingga mereka harus dapat memilih jalan hidupnya sendiri, apakah ingin menjadi baik, atau justru tetap menjadi anak jalanan.

0 komentar:

Posting Komentar

Kasi komentar iaaa......:)

 

Blogroll

Site Info

Text

The Journal Magz Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template